"Mita, Romy sayang sama Mita. Mita mau kan jadi pacar Romy?”
“Mita juga sayang Romy. Mita mau jadi …”
Plak .. guplak ..
Ku buka mataku perlahan. Oh, cuman mimpi. Tanpa sadar ternyata aku sudah berada di bawah tempat tidur.oh, jadi karna ini punggungku rasanya mau rontok.
“Mitaa ,, bangun ! Sudah jam 7. Cepat, nanti terlambat!”
Oh, tidak. Kulihat jam weker di sampingku. Sudah jam 7. Gawaat! Bisa-bisa jadi sarapan Pak Budi. Ngeri laangsung terlintas di pikiranku. Tanpa piker panjang aku langsung loncat dan terbang ke kamar mandi. Dalam waktu kirang dari 5 menit, aku sudah keluar dari kamar mandi. Cuci muka dan gosok gigi merupakan cara andalanku kalau sudah berada di posisi seperti ini.
“Pagi Ma,”
“Pagi, Mama menjawabku sambil mengoles selai strawberry kesukaanku diatas beberapa lembar roti tawar.
“Mita, kamu semalam ngapain aja sih? Kok susah banget dibangunin? Mama itu capek bangunin kamu, apalagi kamu itu susah banget dibangunin.”
“Maaf deh, Ma, semalaman Mita belajaar. Hari ini ka nada ujian dari Pak Budi, guru fisikanya Mita.” Jawabku bohong pada Mama.
“Bener nih?” ucap Mama penasaran.
“Yah, Mama gak percaya sama Mita?”
“Iya deh, percaya..” kata Mama padaku.
Kulihat jam tanganku. Sudah jam 7.15 . Tanpa pikir panjang aku langsung menyerobot tas ku dan mengambil beberapa potong roti.
“Ma, Mita pergi dulu yah. Dadah Mamii .”
“Mita, hati-hati di jalan. Mulutmu masih penuh, awas tersedak.” ucap Mami di seberang jalan yang hampir tak kudengar lagi, karena yang ada di dalam pikiranku adalah strategi bagaimana caranya untuk datang ke sekolah tanpa terlambat.
Jalan tikus kutelusuri yang merupakan jalan rahasiaku menuju sekolah. Aku pun berlari kecil menuju sekolah .
………
Akhirnya aku tiba di sekolah. Pintu gerbang raksasa sudah ditutup. Ingin rasanya aku memanjat pintu gerbang itu. Namun apa daya aku tak mampu unutk melakukannya. Kalau aku memanjatnya, syukur-syukur kalau aku bisa sampai di balik gerbang dengan pendaratan sempurna. Kalau aku jatuh, tak terbaayangkan malunya.
Kulihat pak satpam di pos jaga. Aku pun berniat untuk memanggilnya.
“Pak, bukain pintunya dong, kataku berharap.
“Tidak bisa, kamu sudah terlambat. Ini sudah jam 7.35. kamu terlambat 5 menit.”
“Yah, Bapak, terlambat 5 menit doang kok. Masa ga bisa sih pak?” protesku pada Pak Satpam.
“Ini sudah peraturan sekolah nak. Bapak hanya sebagai pelaksana.”
“Pak, please dong pak. Hari ini ada ujian dari Pak Budi, guru fisika. Masa Bapak tega melihat saya diluar? Bapak mau melihat saya tidak ikut ujian?” kataku memasang wajah hampir menangis.
Dengan rasa iba, Pak Satpam pun membuka pintu gerbang untukku.
“Baiklah, kali ini kamu Bapak loloskan. Tapi ingat, ini rahasia kita. Okey?”
“Ih. Pak, makasih banyak ya. Bapak memang baik.” Ucapku pada pak satpam sambil mengambil ancang-ancang untuk berlari.
…..
Aku tiba di depan kelas. Terukir di wajahku sepotong senyum kemenangan, layaknyaa peserta lomba yang sudah memenangkan pertandingan.
Tiba-tiba ..
“Mita Aurelia. Kamu sudah ketiga kalinya terlambat masuk jam pelajaran saya. Kenapa kamu terlambat?” Pak Budi memergokiku.
“Ups .. Pak budi. Pasti lain ceritanya ini.” Ujarku pelan.
“Eh, Bapak. Maaf Pak, Semalamaan saya belajar sampai larut malam. Kan hati ini ada ujian mata pelajaran Bapak.”
“Oh, jadi kamu terlambat karena belajar semalaman? Baiklah, saya izinkan kamu masuk. Saya yakin kamu pastin bisa meenyelesaikan soal dengan baik.”
“Terima kasih Pak,” kataku sambil memasuki kelas.
Ujian pun dimulai. Sumpah, melihat soal saja aku sudah tak selera. Namun aku mengerjakannya sesuai dengan apa yang ada di otakku.
…..
Jam istirahat. Cacing di perutku sudah dangdutan karena tidak di isi.
“Neng, laper niii .. makan yuuk .” ucapku pada Linda seraya memegangi perutku yang seksi ini . Neng itu nama panggilan khuhs untuknya.
“Aduh, Mit, please deh. Ujian tadi itu rasanya hancur banget.” Katanya padaku.
“Neng, udah la. Aku aja yang tadi datang telat aja nggak sampai segitunya. Ayo dongg..” kataku lagi sambil menariknya dari habitatnya. Akhirnya si Neng pun mengikutiku tak beberapa lama kemudian.
…..
Di kantin aku memakan bakso Mang Udin dengan lahapnya.
“Mit, lo rakus, laper, atau ga pernah makn sih?” kata si Neng terheran-heran .
padaku melihat aku makan dengan liarnya.
“Eh, maap.maap jadi lupa ada bicara sama gue. Hehe ..” jawabku cepat.
“Jujur deh, Mit. Lo semaleman itu bukannya belajar kan? Atau jangan-jangan mimpi Romy lagi?” tanya Linda penasaran padaku.
“Mmm, mau yang jujur apa bohong? Haha” .jawabku kemudian.
“hmm, sebebarnya sih mimpiin Romy lagi.”
“Tuh, kan . anggapan gue bener. Aduh mita, udah berapa kali sih gua bilangin sama elo, si Romy itu udah punya Brenda. Harusnya elo tau diri dong.”
Aduh, please deh, Neng. Gue enggak peduli apa kata orang . lagian kalo teringat sama cewek kegatelan itu, bisa katarak mata gue karena dia.
Sambil aku melahap bakso, tak taunya si Romy datang ke kantin dan melewati meja kami. Tetapi pandanganku seolah terganggu dengan sosok yang berada di sampingnya. Sosok itu adalah Brenda.
“Neng, Brenda itu statusnya apa sih? Pacarnya atau Pengawalnya?”
“Tauk, tuh. Mau aja itu si Brenda hanya karena ingin dekat Romy.” Ucap Linda semangat.
Romy adalah sosok sempurna bagiku. Selain ganteng dan tinggi, dia juga menjabat sebagai Ketua Osis sekolah. Dia adalah idaman semua cewek-cewek di sekolahku.
Kejadian itu bermula dari disaat aku berumur 6 tahun, bermain di taman dan memegang sebuah es krim yang lezat. Sambil aku bermain boneka dan menjilat es krim yang lezat, datang sogerombolan anak laki-laki bertubuh besar menghampiriku.
“Hai anak kecil. Berikan es krim itu kepadaku. Kalau tidak aku akan memukulmu.”
Aku tak berani menatap ke arahnya. Aku hanya tertunduk dan menutup wajahku sambil menagis.
Aku mendengar langkah kaki mendekati kami. “Hei, beraninya sama anak perempuan. Ayo ke sini kalau berani!” ujar suara itu.
“Dasar, pengganggu!”
Akhirnya segerombolan anak bertubuh besar tadi melawannya. Mereka memukul dan menjatuhkan lelaki itu. Perlahan ku buka mataku. Dengan langjah perlahan aku mendekati lelaki yang datang tadi. Aku melihatnya berdarah.
“Ini, pakailah.”
Anak laki-laki itu tidak mengucapkan apa-apa. Ia langsung berlari dan menjauh.
“Terima kasih telah menolongku. Siapa namamu?” teriakku sebelum dai pergi meninggalkanku.
“Namaku Romy.” Teriaknya. Ia pun pergi meninggalkanku.
Sejak itu aku jatuh cinta padanya. Berharap ia akan datang dan menghampiriku dan tersenyum padaku. Aku merindukanya …

Tidak ada komentar:
Posting Komentar